Kiat Sukses Wong Solo Bertahan di Tengah Gempuran Waralaba Asing

Written By Media ISIS on Sabtu, 11 Oktober 2014 | 00.30

Media ISISAyam Bakar Wong Solo tetap sustain di tengah kepungan waralaba asing yang mengusung ayam. Apa kiat sukses franchise ayam bakar ini hingga terus bertahan dan sustain?  
Persaingan dunia kuliner ayam di industri franchise semakin ketat. Apalagi belakangan ini banyak waralaba ayam dari Korea yang masuk ke Indonesia. Tidak heran jika banyak pemain waralaba yang berguguran. Hanya segelintir saja pemain franchise ayam lokal yang bertahan    

Ayam Bakar Wong Solo (ABWS) adalah salah satu dari segelintir itu merek franchise kuliner ayam yang masih bertahan tetap sustain. Restoran yang berdiri pada 1991 ini tetap menunjukan keperkasaanya meski dikepung oleh waralaba asing. Bahkan merek ini terus berjihad untuk mempertahankan gerainya yang sukses di Malaysia, walaupun gerai-gerai ayam, lele yang sama asal Indonesia yang sudah masuk ke Malaysia semua tumbang. Setelah sukses di Malaysia, bulan Haji ini buka di Jeddah.  
Sampai kini, ABWS tetap konsisten mengembangkan gerainya ke berbagai pelosok daerah Indonesia hingga memiliki ratusan gerai. Beberapa gerainya sudah berada di kota –kota Sumatera, Kalimantan, Bali, Jawa, Sulawesi, Papua, Mataram dan sebagainya.
Yang membanggakan, rata-rata gerai ayam ABWS tersebut selalu ramai dikunjungi customer. Dalam sehari rata-rata pengunjung yang datang ke gerai ABWS sekitar 1000-2000. Belum lagi nasi kotak yang memang menjadi andalaanya yang bisa habis sekitar 300-500 buah.
Puspo Wardoyo, Owner Ayam Bakar Wong Solo mengakui tidak mudah bertahan dan terus mengembangkan pasar ayam bakar di tengah gempuran asing saat ini. Selain butuh kerja keras dan effort bisnis yang kuat, pemain franchise juga harus punya pengalaman untuk bisa masuk ke suatu daerah.
“Sebagai merek lokal kita punya pengalaman menguasai pasar daerah. Jangan sampai kalah dengan merek franchise ayam luar negeri  yang sudah menjalar ke berbagai daerah sampai sudah masuk ke tingkat kecamatan kabupaten,ini akan berbahaya karena ayam khas Indonesia akan hilang.” ujar Puspo Wardoyo.
Seperti di Papua, katanya, ABWS juga harus tahu betul karakteristrik budaya dan aturan di sana. “Di sana aturan yang masih kuat hukum adat, maka saya harus bisa melakukan pendekatan kepada ketua adat disana,” ujarnya.
Yang kedua, lanjut dia, untuk bisa bertahan, ABWS memiliki sentral logistik dan training center di daerah tertentu untuk mengirim keperluan usaha yang akan buka di suatu daerah. Sehingga bisa men-support gerai yang baru buka. Fungsinya training center untuk mensuplai tenaga SDM yang berkualitas di daerah, dan gunanya pusat logistrik itu untuk pengiriman barang di daerah terdekat, jadi tidak lama dan mahal biayanya,” tandasnya
Ketiga, kata Puspo lagi, AWBS selalu tegas dalam memberikan standar gerai baru sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh franchisor. “Jadi kalau di manapun daerahnya, standar luas gerainya harus sama. Itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena kalau gerainya kecil atau tempat duduknya tidak luas dan nyaman, juga desain geranya tidak enak dilihat, itu tidak berhasil. Sebab kita sudah pengalaman,” tandasnya.
Keempat, lokasi usaha yang akan berdiri harus benar-benar sesuai dengan kriteria tim survei kita. Pasalnya, ABWS punya tim survei berpengalaman yang sudah tahu mana lokasi yang bagus dan mana yang jelek. “Traffic-nya harus dilihat, posisinya juga harus diperhatikan, tempat parkirnya juga harus luas,” kata Puspo.

Kelima, memelihara dan memaksimalkan gerai franchisee yang sudah bergabung. “Jangan sampai franchisee ditinggalkan begitu saja ketika sudah bergabung dengan kita. Karena banyak franchisor yang agresif mengembangkan gerai baru, sementara gerai franchisee dilupakan. Sehingga kualitas produk, layanan serta omsetnya tidak maksimal karena jarang diperhatikan franchisornya,” ujarnya.
00.30 | 0 komentar